Surat Cinta Untuk Kekasih: Curhat 10

Rabu, 21 Januari 2009

Curhat 10

CURHAT

Malam demi malam terlewati seolah hampa,
Gundah selalu menemani bathinku,
Sulit rasanya menemukan sebab,
Pikirku satu, aku masih jauh dari padaNya..

Semakin hari semakin kompleks hidup kurasa, malam ini terasa betul keragamannya.
Aku cukup nyaman dengan sebuah pena di jemari,
Malam ini begitu banyak hal terlintas dibenakku, salah satunya ialah ocehan kerabat dekat yang cukup menyita perhatianku, mereka bilang aku terlihat lebih kurus dari biasanya, mereka bilang ini karena perpisahanku dengannya, mereka bilang ini penyakit cinta. Aku tersenyum simpul mendengarnya tanpa sanggup mengklarifikasi sebab menyusutnya berat tubuhku.
Tanpa bermaksud mengklarifikasi, sekarang aku berfikir apa sebab itu terjadi.
Beberapa bulan ini memang bulan-bulan yang cukup berat untuk di lewati, banyak hal yang menyita tenaga dan pikiranku, banyak hal yang kusesali, masih banyak cita-cita dan niatan yang belum terlaksana, tapi satu paling tidak yang cukup miris, aku memikirkan ketidak berdayaanku menghadapi dunia apalagi akhirat kelak.
Cukup susut tubuhku memang, entah kapan mulainya, tapi jarum timbangan di tempat Pusat Kesehatan Masyarakat yang biasa ku kunjungi saat memeriksa kesehatan diriku menunjukkan angka 50, biasanya 51 keatas.
Seperti kerabatku bertutur, mungkin juga ini karena perpisahanku dengannya, ya.. itu juga mungkin. Wanita itu cukup menyita tenagaku, itu tidak bisa dipungkiri, semakin sering aku teringat sosoknya, semakin sering hatiku tergores.
Ia terlalu berarti dari sebuah kata cinta, cukup banyak mimpi yang ingin ku kejar menjadi kenyataan dengan hadirnya dia disisi bathinku. Ia selalu teringat, malam ini pun tak terlewatkan dari bayangnya. Baru saja tadi selepas aku bercengkrama dengan keluarga, naiklah aku ke lantai 2 dan menyalakan televisi usang yang berada di kamarku.
Salah satu stasiun televisi memutar film yang membuatku selalu teringat akan sosoknya, ya.. Termehek-mehek, katanya ia suka film itu.
Hari sabtu kemarin (17 Januari 2009) aku menemani teman-temanku bermain warnet ria di Focus net, spontan aku teringat saat-saat menemaninya bermain warnet disana dengan menikmati sajian lagu yang berdentum di tengah-tengah ruang netter.

Bukan hanya dua hal tadi yang dapat membuatku teringat akan sosoknya, mengunjungi rumahnya, mengantar jemput pulang sekolah waktu SMP, makan bakso bersama, dan hal-hal kecil lainnya.
Biarlah kenangan tersimpan di hati, jika saja ia tahu bahwa tak pernah hati ini ke lain wanita. Terlalu besar kasih yang tak terungkap dengan perbuatan dan perkataan dibanding dengan yang terungkap. Tapi aku takut hukuman Tuhan jika rindu kulahirkan, aku takut cintaku berlebih kepada mahlukNya dari pada kepadaNya.
Renungan singkat ini tak mampu jua menyimpulkan sebab menyusutnya berat tubuh ku .
Semoga saja karena upayaku mendekat kepadaNya, mencari ridhoNya, dan ikhtiarku memupuk kebaikan dalam bathinku.

Ingin mengutip sebuah karya Jalaluddin Rumi :
Inilah cinta .. Terbang tinggi ke langit
Setiap saat mencampakkan ratusan hijab
Mula-mula menyangkal dunia (zuhd)
Pada akhirnya jiwa berjalan tanpa jasad
Cinta memandang dunia benda-benda telah raib
Dan tak memedulikan yang hanya tampak dimata

Ia memandang jauh ke balik dunia rupa
Menembus hakikat segala sesuatu

Aku ingin mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun yang terbentang di bumi dan ada di langit, aku hanya mampu berserah dan memohon ampunan-Nya, karena tak mungkin bisa ku sempurna mencintai Nya seperti ke Maha-an Nya
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar